Anggita

mewarnai dan membagi hidup

rainbow

December 3rd, 2010 by anggita in sightseeing · No Comments

you are my rainbow

→ No Comments

my first snow

December 3rd, 2010 by anggita in ordinary me · No Comments

(everybody talks about it’s snowing there)

(Yeah envy is the right word to describe what’s in my heartbeat. I want those snowflakes)

That picture was taken at the 2nd or 3rd day of Boras’s winter 2004. We played outside in the night, tried to make snowball (yeah we did-although not that perfect tongue). Getting so desperate since made a snowball was not that easy,we decided to do “free things” such as made a pose like picture above.. :D

And the picture below I guess is the very emotional event. It was my first snow :)

I just walked from downtown. Suddenly those tiny little icy things fell through my head. I couldn’t believe it immediately, but then I pinched my skin.. hooo I wasn’t dreaming……… I ran inside the flat to tell everybody it was snowing outside,  ran back to the yard and enjoy the snow…..

#thank you for Jin Pill for the photograph#

GOSH, I WANT THOSE SNOW BADLY!

→ No Comments

holiday is (not) in the air

November 27th, 2010 by anggita in ordinary me · No Comments

when you feel it’s too hard,

when you’ve tried your best but it failed,

when you think tomorrow is so sorrow,

don’t let  that monkey gets on your back.

(please do not hesitate t0)

take a HOLIDAY

Go to another island,

do shopping

join a beauty class

eat a lots

or even just take a very deep breath

(But remember, get your self back after. That’s what the winner should do)

→ No Comments

extraordinary is possible

November 23rd, 2010 by anggita in ordinary me · No Comments

I think therefore I am.

We should remember that phrase, keeping in our mind, and trasmitting into our daily life. Wishful thinking leads us to wish itself.

I am just about planning to learn about neuropsychology, which is seemed so hard to make it real. Lots of biological terms, too may neuron systems :confusedigh:: and it is shought too far away form my mainstream. Then my friend said this wise-full :) words.

Extraordinary is possible. As long as you have passion on it, you’ll make it!


AHA! that’s the mantra!

( it is not directly related to, but according to Stenberg (1978) about his triangular love,,, the “perfect” love is when its ingredients are: intimacy, commitment, and passion. If I love science perfectly and wanna life happily ever after with, then I must be filled by those three components :) )

→ No Comments

what’s your M?

November 21st, 2010 by anggita in ordinary me · No Comments

MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM

M means Me

M means Memory

M means Music

M means May be

and many others M’s meaning

but here I would like to ask M for Mission? What’s your life’s mission? Why you are standing here and why are you doing such a thing? What for you make many decisions, what for you do commitments?

What why when where who how and all the question’s going?

Have you answered it?

Or you are on the way answering it?

May be you will answer it… sooner or later…

(Please do mention that there is a BIG differences between WANT and WILL. Willingness. )

MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM

→ No Comments

mirror mirror

November 18th, 2010 by anggita in ordinary me · No Comments

When I wake up I always asking about who am I actually. I want to be genuine, don’t wanna bad person lay back on my half body. O please tell me who am I. Then I start looked like the swimming fish looking for water.oooo


“Mirror Mirror”

Mirror mirror lie to me
Show me what I wanna see
Mirror mirror lie to me

Why don’t I like the girl I see
The one who’s standing right in front of me
Why don’t I think before I speak
I should have listened to that voice inside me
I must be stupid, must be crazy, must be out of my mind
To say the kind of things I said last night

Mirror mirror hanging on the wall
You don’t have to tell me who’s the biggest fool of all
Mirror mirror I wish you could lie to me
And bring my baby back, bring my baby back to me

Mirror mirror lie to me
Show me what I wanna see
Mirror mirror lie to me
Show me what I wanna see

Why did I let you walk away
When all I had to do was say I’m sorry
I let my pride get in the way
And in the heat of the moment I was to blame
I must be stupid, must be crazy, must be out of my mind
Now in the cold light of the day I realize

Mirror mirror hanging on the wall
You don’t have to tell me who’s the biggest fool of all
Mirror mirror I wish you could lie to me
And bring my baby back, bring my baby back to me

If only wishes could be dreams
And all my dreams could come true
There would be two of us standing here in front of you
If you could show me that someone that I used to be
Bring back my baby, my baby to me

Mirror mirror hanging on the wall
You don’t have to tell me who’s the biggest fool of all
Mirror mirror I wish you could lie to me
And bring my baby back, bring my baby back to me

Mirror mirror hanging on the wall
You don’t have to tell me who’s the biggest fool of all
Mirror mirror I wish you could lie to me
And bring my baby back, bring my baby back to me

Mirror mirror lie to me
Show me what I wanna see
Mirror mirror lie to me
Mirror mirror lie to me
Show me what I wanna see
Mirror mirror lie to me

[ M2M LYRICS at www.AZLyrics.com ]

→ No Comments

psikogerontologi 2

November 18th, 2010 by anggita in study · 2 Comments

(Sebenarnya ini adalah jawaban soal ujian tengah semester saya. tapi pengen banget saya share. Sangat terbuka untuk masukan, dan semoga bermanfaat. oiya, pesan saya, jangan percaya dengan apa yang kamu baca sebelum mengecek kebenarannya ya… **satu lagi. I hate plagiarism. please never do that copypaste**)

1. Maksud dan tujuan mempelajari psikogerontologi:

Menjadi tua dan menua bukanlah sebuah tugas yang mudah. Hal ini membutuhkan suatu dasar pemahaman terhadap proses penuaan, rencana yang baik, usaha, dan juga ketekunan. Perkembangan adalah proses yang terjadi seumur hidup. Perkembangan adalah  perubahan, dan perubahan ini bisa berarti peningkatan atau penurunan. Inilah, yang menjadi penekanan dalam psikologi usia lanjut, yakni proses degeneratif yang terjadi. Kedua, perkembangan itu sifatnya unik, karena manusia memiliki sifat individual differences. Sehingga, dengan mempelajari psikologi usia lanjut ini, diharapkan dapat mengoptimalisasi segala potensi yang dimiliki, dan meminimalisasi kekurangan .

Mempelajari psikogerontologi, memiliki beberapa tujuan seperti:

  • Mengetahui dan memahami tentang masa usia lanjut yang berkaitan dengan aspek kesehatan, status sosial, dan kepribadian.
  • Memahamai mengenai lanjut usia dalam menghadapi pensiun.
  • Memahami  masalah lanjut usia dalam status keluarga.
  • Mengetahui dan memahami berbagai macam penyakit yang mungkin diderita oleh lanjut usia.

Memiliki pengetahuan, pemahaman yang baik mengenai psikogerontologi tentu akan memberikan manfaat. Salah satu bentuk menfaat praktis adalah membantu persiapan memasuki usia tua, memaksimalkan kapasitas dan segala potensi  yang dimiliki orang lanjut usia, sehingga dapat menikmati masa tua dengan sebaik-baiknya, dengan penuh kebijaksanaan, energi, dan vitalitas.

2. Beberapa teori yang membahas kehidupan orang usia lanjut:

  • Teori Biologi. Teori ini terdiri dari teori mikrobiologi yang lebih melihat sel-sel tubuh sebagai tanda-tanda dalam proses penuaan. Teori yang paling terkenal adalah sampah sel yakni semakin tua, sel semakin sulit membuang sisa sehingga menempati 20% dari bagian sel. Teori mikrobiologi yang lain adalah mengenai hubungan-persilangan, dan lonceng waktu sel. Kedua, teori ini terdiri dari teori makrobiologi yang melihat penuaan lebih luas daripada sekedar sel. Tiga teori makrobiologi yang paling terkenal adalh sistem kekebalan, hipotalamus dan kelenjar pituitary, serta organ pendukung dan homoestasis.
  • Teori Erikson. Erikson menyatakan masa dewasa akhir dicirikan dengan tahap integritas vs keputusasaan. Saat ini adalah saat dimana manusia mengevaluasi kembali apa yang telah mereka kerjakan dengan hidupnya. Teori ini lebih menyoroti masalah sosial-emosi masa lanjut usia.

3. Penyakit yang mungkin dialami orang usia lanjut yang menunjukkan proses degeneratif fisik:

a.    Degeneratif fisik yang berkaitan dengan panca indra:

  • Pendengaran: mengalami penurunan fungsi pendengaran (presbiakusis). Orang lanjut usia mengalami kehilangan yang signifikan dalam pendengaran pada frekuensi tinggi dan juga frekuensi sedang. Kekurangan tersebut dapat ditolong dengan alat bantu pendengaran.
  • Penglihatan: Presbiopi atau mata tua, yakni sebuah keadaan dimana mata memiliki kemampuan akomodasi yang sangat kurang, tidak bisa memfokuskan mata pada jarak sepanjang lengan. Bayangan jatuh jauh dibelakang retina, sehingga diperlukan alat bantu (kacamata plus) agar bayangan jatuh tepat pada titik focus di retina.
  • Pengecapan: orang lanjut usia mengalami kesulitan dalam merasakan rasa, seperti asam, manis, dan asin sehingga kurang bisa menikmati makanan.
  • Penciuman: akibat proses degeneratif fisik, orang lanjut usia mengalami kemunduran kemampuan dalam mencium bau, contohnya kurang peka dengan bau benda terbakar.
  • Perabaconfusedalah satu yang sering diderita lansia adalah tremor, akibatnya tidak bisa sigap dalam memegang sesuatu.

b.    Sistem pernafasan. Kapasitas paru-paru menurun antara usia 20-80 tahun, sehingga lansia akan memiliki paru-paru yang elastisitasnya menurun, dada menyusut, dan diafragma melemah sehingga penyakit gangguan pernafasan mengancam. Namun demikian, fungsi paru-paru dapat diperkuat dengan latihan memperkuat diafragma.

Penyakit-penyakit diatas sifanya umum, terjadi karena orang lanjut usia mengalami penurunan atau proses degenerasi. Penting untuk digarisbawahi pula jika kemunduran pada orang lanjut usia bisa jadi berbeda antara individu satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti genetik, kebiasaan diwaktu muda, faktor sosial,  ekonomi, dan banyak lainnya.

4.    Orang lanjut usia di Indonesia belum tentu mau atau bersedia untuk masuk ke Panti Wredha karena:

di Indonesia, stigma yang menempel pada panti wredha terlanjut buruk, yakni tempat buangan atau dengan kata lain, mereka yang berada dipanti wredha adalah mereka yang tidak dikehendaki di keluarganya. Hal ini tak dapat dihindarkan, karena panti wredha di Indonesia berada dibawah naungan departemen sosial, sehingga selama ini yang berada dipanti wredha adalah mereka yang tidak memiliki saudara, dan biasanya mereka dari kalangan ekonomi rendah. Biasanya, ketika seseorang masih memiliki keluarga, maka keluarga itulah yang “berkewajiban” mengurusnya. Orang Indonesia, khususnya orang Jawa, menurut Hoftede adalah termasuk dalam masyarakat kolektif, dimana kebersamaan adalah hal yang utama, terlebih untuk dapat selalu bersama dengan keluarga. Diri adalah bagian dari masyarakat (dan keluarga adalah bentuk masyarakat terkecil) sehingga menjadi tanggungjawab bersama. Kebudayaan kita juga memiliki semacam kebudayaan tidak tertulis, dimana anak harus “membalas budi” pada orangtua saat mereka sudah mentas, menjadi sandaran hidup orangtua saat mereka sudah renta. Sebuah kewajaran dan kebanggaannya,  orangtua diurusi oleh anak diusia lanjutnya.  Hal ini bertolak belakang dengan di Negara maju. Pertama,di Swedia misalnya, lansia adalah tanggungan negara, sehingga diusia tuanya, lansia mendapat uang jaminan setiap bulan. Lansia juga mendapat fasilitas untuk menempati panti wredha, sehingga menjadi penghuni panti wredha di masa tua adalah sebuah pilihan yang wajar. Kedua, Negara barat, menurut Hoftede adalah masyarakat individualis. Diri adalah tanggung jawab sendiri. Tugas orang tua adalah selesai saat anak mencapai usia tertentu. Menurut hasil sebuah penelitian, salah satu hal penting yang ada kaitannya dengan kesehatan dan juga kelangsungan hidup di panti wredha adalah perasaan penghuni untuk mengontrol dan menentukan diri (Baltes& Wahl, 1991; Schmidt, 1990, dalam Santrock 1995). Justru dengan mandiri orang lanjut usia dapat hidup sehat dan bahagia.

Penuturan diatas tentu memperjelas sebab mengapa orang lanjut usia di Indonesia belum tentu mau masuk ke panti wredha.

5. Kepribadian integrated pada lansia adalah sebuah keadaan ketika orang lanjut usia:

  • Re- Organized dalam segala hal. Orang lanjut usia hendaknya mereorganisasi diri dan hidupnya, bahwa sekarang dan nanti tidak sama dengan dulu saat masih muda. Lansia hendaknya mampu mengukur kemampuannya sendiri, sehingga mampu mengatur kehidupannya agar dapat berjalan baik dan seimbang. Misalnya, dalam kemampuan fisik, dulu saat muda lansia mampu mengangkat beban seberat 25 kg dalam satu waktu, saat ini dengan kesadaran akan penurunan kemampuan fisiknya, melakukannya dalam beberapa kali angkat. Contoh lain dalam masalah financial, jika dulu selain gaji tetap menerima penghasilan lain dari bonus pekerjaan misalnya, maka saat lansia harus menyesuaikan diri dengan kemampuan financial yang tentu berbeda.
  • Fokus pada satu hal. Saat muda, saat fisik masih prima seseorang mungkin memiliki stamina untuk berkomitmen dengan banyak hal. Memasuki masa lansia, tenaga menjadi terbatas, begitu pula dengan kemampuan lain. Memfokuskan diri pada satu hal yang menjadi kesenangan dan sesuai kemampuan (seperti hobi berkebun) akan menimbulkan rasa senang. Ketika seseorang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, menurut Czikzenmihalyi dalam bukunya “Flow” (1990),akan mencapai apa yang disebut flow dan saat inilah performa puncak tercapai. Hal ini memberikan pencerahan, bahwa bukan tidak mungkin dari focus dan mencintai sebuah hobi akan membuka kesempatan untuk meraih income. Jika hal ini tercapai, selain manfaat langsung seperti menambah pemasukan, tentu sangat bermanfaat untuk menaikkan self-esteem lansia sehingga menambah kebermaknaan hidupnya.
  • Succesfull Age Disengangment: inti dari istilah ini adalah keikhalasan. Orang lanjut usia diharapkan dapat melepaskan apa yang pernah dicapainya dengan penuh kerelaan. Misalnya dulu dia seorang pejabat, tetapi sekarang tidak lagi harus dapat diterimanya dengan baik dan penuh kerelaan. Ketika seseorang rela, maka hari-harinya akan dapat dijalani dengan ringan dan menjadi manusia yang optimal.

Kepribadian integrated pada orang lanjut usia ini akan dapat tercapai jika meliputi ketiga poin diatas. Sifat dari kepribadian integrated ini seperti sebuah jenjang. Tinggi ataupun rendah level terintegrasinya sebuah kepribadian lansia tentu bergantung pada seberapa besar usahanya pada ketiga poin diatas. Selain itu pula, perlu digarisbawahi bahwa kebahagiaan itu sifatnya subjektif. Succesfull aging akan dapat tercapai ketika orang lanjut usia menerima dan menginginkan apa yang telah dia miliki, bukan menghendaki sesuatu yang diluar dirinya.

→ 2 Comments

kuliah sd

October 18th, 2010 by anggita in opinion · No Comments

Sejak SD, kita sudah terbiasa untuk berebut peringkat atau ranking dikelas. Gimana enggak, dari mulai ayah ibu, nenek kakek, dan semua saudara, memilki satu pertanyaan yang khas, terlebih sesaat setelah kenailan kelas: “Ranking berapa?”

Tengsin lah, kalau sampai menjawab dengan bilangan terbesar. Juara satu barulah jawaban terbaik, yah, seenggak enggaknya sepuluh besar lah..

Kebetulan, saat sd ranking satu selalu sayapegang. Mulai SMP,mulailah masa storm and stress dan dimulailah saart-saat malas belajar itu :) Saya bener-bener mulai malas belajar bener ya saat smp itu. (dooh jadi tertarik nih, menelusur apa yang mulai bikin malas). Kelas 2 smp saya menemukan formulasi, bahwasanya orang pinter akan terkalahkan oleh orang yang rajin. Ini gara-gara ada teman yang *menurut saya lho* jauh dibawah rata-rata saya*parameternya ya hasil rapot cawu 1 dan raport kelas1ples NEM masuk,hehehe*,, eh lha kok juara kelas.  Sementara saya yang “harusnya” bisa dapet ranking lebih bagus, malah..ah entah ranking berapa.. Jadi, kesimpulan saya, kalau mau sukses ya harus pinter dan rajin. *ah, saya kan cerdas :D *ngeles* Tapi teteeeep… kemalasan saya belajar berlangsung.. hingga… *dooosh semoga segera berhenti* Yaya, sejak smp, sma, saya emang gak pernah dapet ranking lima besar lagi. bahkan masuk ke …puluh besar. IP juga gak pernah tuh, diatas 3,5… hihihihihi

Tapitapi tapi, bukan itu yang mau saya bahas. Oke, kembali lagi, jadi, sejak sd kita sudah terbiasa untuk menjadi yang terbaik diantara teman-teman aka mengalahkan teman-teman, menempatkan mereka di ranking setelah kita. dan itu berlangsung hingga SMA.

Saat kuliah, tentu pikiran ini masih terbawa lah ya……………

Nah, ini dia yang menggelitik2 saya. Bisik-bisik tetangga, walau saat ini saya sudah S2, masih banyak kisah sedih di hari minggu, someone trying so hard to be the number 1. (dah gak usah nudang nuding atau mencoba menebak-nebak..!kan bisik-bisik tetangga. tetangga siapa?big grin )

Wah, kompetisi sih bagus sekali… tapi, ehem, dengan mindset menyingkirkan dan bukannya berkompetisi agar sama-sama kompetitif didunia kerja misalnya, jadinya ya gak asik.

Sikut sana, sikut sini. Jilat sana, jilat sini. Yang ada adalah hitung-hitungan. Yang ada adalah saling tutup menutupi potensi, learning resources. Akibatnya, bukannya saling berbagi untuk makin memperkaya, tapi malah ehem, kura-kura dalam perahu. Belum lagi jikaada tugas untuk bersama. Isinya hanya IREN (jawa). Belum siapa yang ndoro, siapayang  the real hero,dan siapa yang ingin tampak jadi…. ngoyo (padahal omdo).

Padahal kuliah itu kan… mau ipnya 4 atau 5 sekalian, ya monggo… gak da urusan sama teman-teman.

Mau jadi cerdas karena usahanya lebih, bacanya lebih kuat, ya bagus. hasilnya ya dipek dewe…

Mau ongkang ongkang sambil ndomblong pun yaitu hak kita sendiri.

So, kenapa enggak bergandengan supaya sampainya sama-sama?

Emang susah kalau kuliah masih membawa pikiran sd.  Ya bukan salah kita sepenuhnya sih. Yowis, salahnya kodok saja…….

Comments Off

psikologi perdamaian: pengantar

September 23rd, 2010 by anggita in study · No Comments

Salah satu bahasan dalam psikologi perdamaian adalah untuk mengetahui violence. Violence itu dimulai dari domestic violence (cth: KDRT), school shooting (cth: tawuran), Structural form of violance: Ethnopolitan conflict (cth: konflik antar suku), genocide/pembunuhan massal (cth: Rwanda), terorisme (deh contohnya banyak!), dan perang (tentu from psychology’s point of view!)

Dalam psikologi perdamaian ini, diharapkan kita mampu memahami alasan mengapa sebuah violence terjadi, mengembangkan dan mengassess sebuah peristiwa dan ujung-ujungnya menghasilkan stregi bagaimana menghasilakn RESOLUSI KONFLIK yang efektif.

Isu yang akan dibahas seperti yang diuraikan diatas, mulai dari level mikro hingga ke makro. Dimulai dari level interpersonal (domestic violance), community, national, hingga ke konteks internasional.

Bacaan:
1. Christie, Wagner, Peace, conflict, and violence
2. Aku Melawan Teroris, Imam Samudra, Jazeera 2004
3. Temanku Teroris, Noor Huda Ismail, Hikmah 2004.
4. Ali Imron……..
(Bacaan 2-4 tersebut penting, untuk menyelami pikiran-pikran ekstrim sehingga kita bisa melihatnya dengan objektif)

oiya, banyak juga artikel dari pak DA yang bisa menambah pemahaman kita dalam kuliah ini disini

Weh.. ndak sabar saya menanti kekasih, eh, mengikuti kuliah ini selanjutnya…
Pssst… saat ini saya sedang mempersiapkan presentasi bagian saya (yang entah kapan presentasinya**) tentang INTRASTATE VIOLENCE. hohohoho.. keren ya?

** sedia payung sebelum hujan. hayo, ini sebuah langkah yang wajib diikuti mahasiswa manapun ^ ^ v

Comments Off

psikologi ekonomi: pengantar

September 23rd, 2010 by anggita in study · No Comments

Matakuliah ini menarik, karena menggabungkan dua bidang: Psikologi dan Ekonomi. Keduanya memiliki objek formal yang sama, yakni manusia. Kalau di psikologi lebih diperhatikan bagaimana proses yang dilakukan manusia, kalau di ekonomi lebih ke output dari perilaku. Baik Psikologi mapun ekonomi, keduanya berbicara mengenai motif/motivasi. Jika dalam psikologi motivasi manusia atas perilakunya itu bermacam-macam, maka dalam ekonomi motivasi dibalik perilaku manusia adalah untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya, atau maximizing utility.

Manusia dianggap makhluk rasional (karena sifatnya yang selalu ingin memaksimalkan setiap manfaat yang diperolehnya dengan usaha sekecil-kecilnya). Lalu kenapa ini jadi masalah? Karena tentu saja akibat timbulnya kesenjangan. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Juga timbulnya berbagai macam pilihan yang tentu saja juga jadi masalah. Karena ingat, rasional-nya itu memiliki syarat, dan disinilah potensi-potensi masalah itu timbul:
1. Maximizing utility. Bagaimana mendapatkan manfaat optimal dengan usaha minimal. Kadang ada hal yang usahanya minimal tapi hasilnya juga minimal. Tetapi pembelaan ekonom, ya daripada tidak sama sekali. hehehe
2. Ingat juga bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengolah informasi yang dimiliki untuk mengambil keputusan yang terbaik. (Dan biasanyanya kita mengalami BINGUNG RESAH GELISAH )
3. Bahwa manusia itu selfish. Selalu ingin yang terbaik untuk kepentingannya sendiri. Namun yang terjadi kan gak selalu. Lha itu, ada yang namanya zakat, shodaqoh, charity, nyumbang. Buat apa nyumbang segala, mengeluarkan uang untuk diberikan. Ho ho ho ternyata, komoditas ekonomi itu gak selalu yang bernilai uang. Komoditas ekonomi itu bisa bersifat psikologis, bisa sosial, yang kalau dikonversi ke moneter (ke senilai uang/ nilai tertentu) ya, ada nilainya, bisa dihitung. Hooo
4. Manusia memiliki will power tanpa batas. Jadi sebenernya kebiasaan menunda-nunda itu bukan kebiasaan manusia . Namun, kadang seseorang menunda-nunda karena mungkin.. *mungkin lho* kenikmatan dari menunda itu lebih tinggi daripada tidak menunda. (ah, tapi apa iya trataban, wayangan garap tugas semalaman itu menyenangkan? Ingat dong poin HASIL YANG OPTIMAL. (Kalo mendadak apa iya hasilnya bisa optimal?eh?!)

Teori-teori ekonomi mengapa dapat membahas hal dari yang makro ke mikro, karena teori ini adalah teori PARSIMONI (teori yang simple, sederhana, tetapi mampu menjelaskan hal yang besar dan lauas). Bagaimana tidak, asumsi dasar dari teori ekonomi is so simple: manusia itu rasional, sehingga dia akan selalu MAXIMIZING UTILITY.

Kalau teori psikologi yang parsimoni……………………. *wink wink

Comments Off